I Met Jeje and Lou

Sekitar bulan Mei 2019. Aku mendapatkan pesan singkat dari salah satu staff dejavato. Namanya Mas Rudi. Dia memberiku kesempatan untuk menemani 2 tamu special dari Prancis. Pertama kalinya bagiku bertemu langsung orng prancis selama aku study kurang lebih selama 4 tahun belajar bahasa prancis. Takut? Jelas!. Dalam pikiran, pasti takut dibilang “gimana sih belajar bahasa prancis gabisa ngomong prancis” Ngapain aja kuliah lama-lama ?”

Setelah berpikir yang akhirnya menemukan hasil, aku bergegas memberikan kabar bahwa aku bisa melakukan. Entah apa yang aku pikirkan lebih baik kulakukan saja. Tugas pertama yakni, menemani mereka selama berkegiatan di Francofete (salah satu acara tahunan di jurusanku). Untuk pertama kalinya, aku bertemu dan berkenalan. Bersama volunteer lainya (Taza). Aku mengampirinya.

Namanya Jerome (24) dan Louison (24). Mereka berasal Bretagne, Prancis bagian selatan. Tak lama mengobrol, kami bergegas ke DP mall untuk berbelanja, karena tujuan mereka ke Indonesia adalah membuat makanan khas Bretagne yaitu Galettes untuk dibagikan kepada anak-anak TK, SD dan  dibagikan kepada orang-orang di Panti Jompo. Di hari itu aku,Taza, dan Mbak Asri membantu sedikit membuat banyak galettes yang terdiri dari galettes manis. Sore hari, kami meramaikan kantor Dejavato dengan segudang cerita dan candaan. Pertama kali, kami saling bercengkrama seperti pernah bertemu sebelumnya. Membuat galettes tidaklah mudah, butuh kesabaran ekstra untuk membuatnya, karena ada trik khusus membuatnya. Dan yang bikin surprised ,mereka membawa peralatan sendiri langsung dari Prancis (astaga terlalu niat). Disitu aku mulai belajar sedikit demi sedikit untuk berbicara bahasa prancis.

Lanjut bahasa inggris, mereka banyak bercerita tentang perjalanya selama hampir 5 bulan sebelum akhirnya menginjakkan kaki di Indonesia. Sebelumnya, mereka tahu tentang Dejavato dari salah satu organisasi di India. Mereka saling terhubung satu sama lain. Entah kenapa aku sangat terkesan mendengar ceritanya. Mereka pasangan luar biasa dengan kerja keras bisa melakukan tour keliling dunia hanya untuk memperkenalkan makanan khas Bretagne. Totally...so inspired! Setelah selesai pekerjaan, kami memutuskan untuk dinner bersama di Kantor Dejavato. Menu pada malam itu yakni Bakmi Jowo Surabaya yang aku beli dengan Mbak Asri di sekitar kantor.

                        Membuat adonan galettes

next day

Aku dan Taza memutuskan untuk ikut membantu membagikan galettes serta Rachel (Volunteer dari Swiss) ke salah satu TK dan SD di Ungaran. TK tersebut merupakan sekolah yang sudah bekerja sama dengan Dejavato. Pukul 7 pagi, kami berangkat. Tiba dengan sambutan meriah dari anak-anak yang selalu memanggil ‘bule’. Kami lanjut untuk membagikan galettes kepada anak-anak. Makanan manis ala Prancis ini mungkin menggoda, tetapi jika dimakan untuk anak-anak terlalu manis bagi mereka dan bukan kebiasaaan. Tapi mereka tetap bahagia dengan kedatangan kami. Hari itu kami langsung melanjutkan ke SD, karena sedang ada ujian sekolah, kami hanya diijinkan untuk bertemu Kepala Sekolah untuk menyerahkan makananya.

next day with Taza, Lou dan Jeje

Aku dan Taza mendapat tugas dari Pak Ketut untuk mengantar mereka city tour di Semarang. Sudah menjadi hal biasa bagi kami local volunteer dari Dejavato untuk mengajak city tour volunteer selama di Semarang. Sampookong, Rainbow Village dan Lawang Sewu. Jujur aku dan Taza bosan haha!. Waktu berhargaku dan Taza bertemu orang-orang asing sebaik mereka. Kita berbicara banyak hal mengenai pandangan islam ternyata mereka sangat open minded lho jadi tidak menganggap islam menakutkan.. Bahkan mereka banyak menanyakan hal aneh seperti laki-laki berjalan sambil bergandengan tangan dengan pereempuan adalah hal yang akan memancing perhatian dari masyarakat sekitar sehigga membuatku tercengang sambil tertawa terbahak-bahak.

Be continued....

Projek menuju Panti Jompo. Kami bersiap berangkat untuk membagikan galettes asin ke Panti Jompo. Kami memasak sejumlah banyak galettes. Galettes asin ini berisi telur, keju, dan sosis ayam. Tak disangka, ibu-ibu lanjut usia ini menyukai makanan yang kami buat dengan bahagia. Seketika kami sedih mendengar cerita sedih dari mereka. Kenapa mereka berakhir di Panti Jompo? Sedangkan mereka masih memiliki anak dan cucu. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua, agar selalu menjaga dan merawat ayah, ibu kita ketika mereka tua nanti.

                Bersama nenek Julia yang selalu merindukan anaknya

Hari bahagia dan haru. Kami melanjutkan makan siang di salah satu restoran yang sering aku lewati ketika pulang dan kembali dari solo. “Restoran Salam”. Gak pernah salah dari awal aku menyukai restoran ini. Ku beri bintang 4 hehe sedikit review.

Tugasku dan Taza selesai. Malam itu kami langsung say goodbye to them. Mereka ga nyangka kita hanya berpisah seperti itu.

Tak disangka lewat pesan singkat, mereka akan berkunjung ke Solo sebelum kembali ke Prancis dan aku bersama Taza menemani mereka selama 2 hari di Solo. Kata mereka untuk salam perpisahan. Sangat luar biasa sekali. Je vous aime!

Anyway, mereka memiliki organisasi kecil yang bernama Breizh Food Trotters dan buat kalian yang penasaran tentang perjalanan mereka bisa baca langsung disini ya 

https://www.facebook.com/breizhfoodtrotters/

Salam

Jangan pernah takut bertemu orang baru karena hidupmu yang sesungguhnya terasa ketika banyak mendengar hal baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thank you! Mom!

Kenapa Sastra Perancis?

Culture Shock in France for Indonesian