Culture Shock in France for Indonesian

Siapa yang tak kenal menara Eiffel? Menara yang terletak di pusat Kota Paris ini menjadi pusat perhatian dunia dengan romansa asmara yang begitu kental padanya. Dalam hal berbusana, kata "kiblat fashion dunia" juga begitu erat kaitannya dengan negara ini. Pandangan dunia pun makin beragam setelah negara ini berhasil menduduki tahta teratas dalam ajang olahraga paling bergengsi di dunia, World Cup 2018 yang digelar di Rusia. Tapi siapa sangka, dibalik beragamnya itu ada juga hal yang mungkin akan membuat kita shock menggelengkan kepala akan budaya ataupun kebiasaaan les francais (orang-orang Prancis). Berikut beberapa culture shock versiku selama tinggal dua bulan di Bretagne Prancis.




1. Sarapan roti panjang (Baguette)


Baguette atau yang biasa dikenal dengan nama roti panjang ini ibarat nasi jika di Indonesia. Saat breakfast, roti ini selalu menjadi sumber energi utama orang-orang Prancis untuk memulai aktifitasnya, begitupun juga saat lunch dan dinner roti ini selalu tersedia bergantung pada tiap keluarga. Biasanya mereka menambahkan selai, beurre (mentega), yogurt atau coklat untuk menambah rasa dari roti ini. Namun bagiku, mengkonsumsi baguette ini membutuhkan usaha lebih untuk sekadar mengunyah dan memasukkannya kedalam perut. Bukan kebiasaan memang untuk mengkonsumsi roti tiap pagi, tapi setelahnya terasa nikmat juga bila dilakukan setiap hari. Untuk orang-orang sepertiku yang tinggal disini mungkin merasakan hal yang sama dimana butuh adaptasi lebih karena makan roti saja tidak cukup untuk membuat perut menjadi kenyang setelah terbiasa dengan nasi sedari kecil.


2. Teh tanpa gula


Teh tentunya sudah sangat familiar di keseharian kita, minuman favorit yang bisa diterima oleh semua kalangan. Menikmati secangkir teh hangat terasa pas mungkin di saat hujan sembari membaca novel kesukaan ditemani biskuit dan suara gemericik air hujan, atau malah disaat pagi hari sebagai tenaga sebelum memulai aktifitas. Untuk kebanyakan orang di Indonesia tentu tak lengkap juga bila secangkir teh tidak ditambahkan gula didalamnya sebagai pemanis rasa. Tapi itu tidak berlaku untuk negara ini, bukan kebiasaan mereka untuk menikmti secangkir teh dengan gula. Bagi mereka menikmati secangkir teh hangat tanpa gula di musim dingin justru terasa begitu indah, tentu ditemani juga dengan novel kesukaan, biskuit serta selimut hangat. Tapi buat kalian yang saat ini kebetulan tinggal dengan keluarga Prancis tak perlu sungkan untuk meminta gula, mereka dengan senang hati akan memberikannya.



3. Mobil "everywhere"


Indonesia dinobatkan menjadi negara tersantuy begitulah pendapat banyak orang. Itulah kenapa yang aku rasakan ketika tinggal di Prancis yang memiliki ritme berbeda dalam beraktivitas misal bekerja, makan, berjalan, menyetir serta hal yang sering aku rasakan lelahnya adalah ketika masuk dan keluar mobil. Terlihat di film-film barat yang sering aku lihat. Perlu diketahui bahwa penumpang di bagian belakang wajib mengenakan seatbelt karena banyak polisi dimana-mana. Sungguh berbeda dari Indonesia bukan? Bukan membandingkan tapi semoga Indonesia dapat menerapkan peraturan seperti itu. Buat kalian pengendara di jalan Tol juga harus ingat bahwa terdapat sensor yang dapat menangkap pelanggaran dijalan dan surat tilang akan sampai rumah dalam waktu kurang lebih seminggu. Dalam hal ini aku anggap culture shock karena sehari-hari aku menggunakan motor untuk beraktivitas jadi untuk aku pribadi sangat membuat shock hehe. Oh iya satu lagi kebetulan dalam 2 bulan aku di Prancis sedang musim dingin dan salam beraktivitas aku antar jemput naik mobil oleh host family. Jarang banget menggunakan transportasi umum, karena lokasi rumah dan halte bus yang jauh dan musim yang dingin juga. Begitu baiknya orang prancis.


4. Makan malam wajib dengan keluarga


Menjadi sebuah kewajiban di negara ini dimana menjelang makan malam, semua anggota keluarga kumpul menjadi satu dan menyantap hidangan yang sudah disiapkan pada meja makan. Berbeda dengan tradisi yang ada pada keluargaku saat ini, dimana makan malam jarang dilakukan bersama anggota keluarga yang lain. Mungkin dikarenakan motto dalam keluargaku "jika lapar ya makan" yang menjadikannya seperti itu dimana kumpul dalam satu meja bahkan satu ruangan bersama keluarga jarang terjadi. Berkebalikan dengan hostfam ku yang mewajibkan makan malam dengan keluarga dan harus menunggu anggota keluarga yang lain. Mungkin itu yang menjadikan alasan di Prancis terdapat budaya goûter atau nyemil di waktu sore hari, karena jarak makan siang dan makan malam yang terlalu lama. Memang karena kebiasaan sewaktu di rumah tidak bisa menahan lapar, sesekali akhirnya mie rebus atau mie goreng menjadi penyelamatku untuk bisa bertahan sampai makan malam.


5. Cuaca


Cuaca tidak pernah gagal membuat kagum orang-orang yang selama ini menghabiskan masa hidupnya di negara yang beriklim tropis. Bagaimana tidak untuk pertama kalinya dihadapkan dengan musim dingin yang suhunya bisa jauh dibawah 10 derajat celsius. Untuk orang tropis sepertiku, jaket tebal dan mantel andalan menjadi senjata utama untuk menghangatkan badan. Flu, batuk dan demam sesekali menghampiriku karena mungkin tubuh ini masih butuh penyesuaian. Tapi sayang musim dingin ini aku tidak seberuntung itu untuk melihat salju turun karena aku tinggal di daerah Bretagne yang hanya turun hujan bukan salju.


6. Keju "all the time"


Buat penikmat keju mungkin ini surga bagi mereka tapi untuk orang yang tidak punya ketertarikan dengan keju adalah hal yang menyebalkan. It’s big problem for me! Pada dasarnya keju juga menjadi makanan utama disana, seperti nasi di Indonesia. Mereka mengonsumsi keju hampir setiap waktu entah itu dimakan langsung atau dicampur dengan berbagai makanan. Ada satu keju yang mungkin masih aku ingat sampai saat ini karena aromanya yang sangat kuat seperti bau kaos kaki yang tidak dicuci selama 1 minggu, keju itu adalah Chausée aux moines. Mungkin teman-teman bisa mencobanya apabila ada kesempatan kesana.


Semua pengalamanku selama disana coba aku tuangkan dalam tulisan sederhana ini agar bermanfaat serta untuk mempermudah dalam mengingat hal apa saja yang sudah aku lakukan. Sangat bahagia menemukan keluarga baru disana yang bisa menerima kedatanganku dan memberikan pengalaman baru yang jauh dari kebiasaanku lakukan sehari-hari. Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thank you! Mom!

Kenapa Sastra Perancis?