Lelaki
Suatu hari. . .
Padamu sang pujangga hati
Yang memiliki ciri khas tersendiri
Untuk memikat hati,
Karena sering berkelahi, sedari dini
Dalam hal membenci
Itulah lelaki,
Atau mungkin hati?
Yang kadang kala berhenti
Tanpa menanti untuk berpatisispasi lagi
Mungkin harus ada kami untuk membangun lagi
Untukmu lelaki,
Sadarlah dari hari demi hari
Tanpa mengucap janji, yang kemudian diingkari
Kuharap padamu akan lebih baik lagi
Tanpa ada hati yang tersakiti
Ingat sang kekasih hati
Yang menunggu disini
Untukmu lelaki,
Jangan jadi yang dikagumi
Terkadang bagi kami tidak menyukai ini
Kutulis ini
Inginkan kebenaran hati
Untuk kebaikan di kemudian hari
Itulah menurut kami, semoga pahami
Terima kasih sekali lagi
LELAKI
Terkadang aku menulis
apa yang aku pikirkan, apa yang aku ketahui dan apa yang aku inginkan. Secara tiba-tiba
muncul dan melintas, jika tidak segera ditulis maka bakal hilang dengan cepat
dan membutuhkan waktu lama untuk mengingat, karena aku bukanlah ahli dalam
mengingat yang kuat. Jadi tulisan di atas kutulis saat malam hening yang
membuatku dapat berpikir dengan tepat. Sekalipun tak akurat. Entah itu macam
puisi atau apapun itu. Jelas itu sebuah tuangan sebuah perasaan dari “Kami”yang
mewakili kaum hawa. Terlihat biasa memang maklum bukanlah seorang pujangga yang dapat
merangkai kata. Banyak berbagai alasan untuk mewakili sebuah tulisan, karena
biasanya berdasarkan pengalaman yang dilakukan. Basically, manusia identik
dengan ketertarikan yang biasanya berawal dari jumpa kemudian rasa. So far
wajar adanya yang tergantung kita bagaimana menyikapinya. Melihat saja kadang
cukup baginya meskipun tak dapat memilikinya namanya juga manusia memmpunyai
prinsip berbeda-beda. Biasanya mempunyai cara unik dalam menyampaikan kadang
secara lisan, tulisan maupun perbuatan. Ada kedatangan ada pula meninggalkan,
lengkap sudah apa yang digariskan Tuhan namun jangan ada pertentangan agar
terciptanya keharmonisan.
Aku senang dengan
kehidupan sekarang dengan kagum pada orang tak lantas membuatku gerang untuk
selalu menginginkan. Adakalanya aku sedikit mengharapkan meskipun kadang pupus
harapan. Itulah kehidupan. Perlunya keseimbangan dalam menjalin hubungan kan? Menerka-nerka
benar, tapi jangan di salah artikan. Jika lelah tuangin aja dalam tulisan siapa
tahu dapat menyampaikan haha ( meskipun hanya kemungkinan) gak ada salahnya
kan?. Salah satu warna kehidupan yang sayang jika dilewatkan dan butuh ekstra
keras dalam bertahan. Munculnya kemungkinan buatlah acuan untuk mendapatkan. Aku
yakin suatu saat akan datangnya kehadiran. Memulai pengorbanan diperbolehkan walaupun
kerap datangnya ancaman, asalkan tidak berlebihan. Maka aku berpesan jangan
salahkan pengorbanan jika memang benar sudah tidak mendapatkan. Tidak selalu
apa yang diinginkan akan datang dalam pelukan. Ucapku biarkan perlahan-lahan menjadi
sebuah kenangan.
Ini hanyalah tulisan
asal jadi jika tak berkenan silahkan abaikan.
Komentar
Posting Komentar